Pages

 

Jumat, 30 Desember 2011

Peneliti Mancanegara Antusias Ingin Ikut Membongkar Piramida Indonesia

0 comments
Para peneliti begitu antusias dengan onggokan tanah yang dianggap menyimpan piramida yang terletak di Gunung Sadahurip atau Gunung Putri di Garut. Antusias bukan saja ditunjukkan peneliti dalam negeri bahkan peneliti mancanegarapun ingin ikut bagian dalam membongkar kebenaran onggokan piramida yang bersembunyi dalam gunung tersebut.

Para peneliti meyakini piramida Garut lebih tua usianya melampaui Piramida yang cukup terkenal sekarang ini di Mesir yaitu Piramida Giza. Diduga piramida Garut memiliki usia 10.000 tahun dan tingginya mencapai sekitar 200 meter.

Kebenaran hal piramida Garut tersebut masih menunggu proses eskavasi yang dilakukan oleh para ahli, bahkan beberapa lembaga peneliti asing ingin ikut bagian dalam eskavasi tersebut baik itu dalam bentuk dana maupun tenaga ahli
Selengkapnya...

Senin, 13 Juni 2011

Bahasa Indonesia masuk Kurikulum Sekolah di Australia

0 comments

Australia - Lansiran Vivanews (13/6/2011) : Dunia pendidikan di Australia kian serius menjadikan bahasa Indonesia sebagai bagian dari kurikulum mereka. Buktinya, Bahasa Indonesia termasuk salah satu mata pelajaran bahasa asing yang ditawarkan di sekolah-sekolah Negeri Kanguru itu.

Fakta ini diungkapkan Peter Mackey, pejabat pendidikan dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta. "Di sekolah-sekolah Australia, selain mengajarkan bahasa Eropa, kami juga mengajarkan bahasa Asia. Bahasa Indonesia, sebagai salah satu bahasa Asia, turut diajarkan secara signifikan," kata Mackey. 

"Kemampuan belajar bahasa dan budaya Indonesia diharapkan dapat menunjang pengetahuan para siswa dalam bidang geografi, juga sebagai persiapan kalau-kalau ada yang berniat melanjutkan studi ke Indonesia," lanjut Mackey dalam "Simposium Pendidikan Internasional Australia-Indonesia" di Jakarta hari ini.

Mackey mengungkapkan bahwa makin populernya Bahasa Indonesia di Australia tak lepas dari makin banyak pelajar nusantara yang menimba ilmu di negaranya sejak 1950an. Pada 2010, tercatat 18.000 pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan Australia.   

"Angka ini semakin meningkat setiap tahunnya, dan hal ini semakin mempererat hubungan kedua negara dalam bidang pendidikan," ujar Mackey.

Dia juga mengungkapkan bahwa Indonesia dan Australia menjalin kemitraan yang sangat baik dalam bidang pendidikan. Australia bahkan menyediakan anggaran kurang lebih Rp4,5 milyar untuk kerjasama pendidikan bilateral.
 
Beberapa figur lain yang menjadi pembicara dalam simposium di Jakarta itu antara lain Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Fasli Jalal; perwakilan Bank Dunia, Chris Smith; Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Irwandi Arif; dan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Dewi Irawaty.
 
Selengkapnya...

Minggu, 12 Juni 2011

Indonesia Negara Pertama di Asia Dapat Pengakuan dari UNWTO

0 comments

Kerja keras Indonesia belakangan ini dalam memajukan pariwisata Indonesia mendapat apresiasi dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO), Apresiasi tersebut di dapat atas komitmen tinggi Indonesia untuk memajukan sektor pariwisata. 
Nusa Dua - Lansiran Kompas.com (11/6/2011) : Indonesia mendapat pengakuan dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO) sebagai negara yang memiliki komitmen tinggi untuk memajukan sektor pariwisata. Pengakuan tersebut diberikan melalui surat terbuka yang diserahkan Sekretaris Jenderal UNWTO Taleb Rifai kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan di Hotel Laguna, Nusa Dua.

Seusai pertemuan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan bahwa Indonesia adalah negara pertama di Asia yang mendapatkan pengakuan dari UNWTO. "Indonesia dianggap oleh UNWTO punya komitmen sangat tinggi dalam memajukan pariwisata. Menurut Sekjen UNWTO, Indonesia adalah negara Asia pertama yang diberikan Commitment Letter itu," kata Jero Wacik.

Parameter pengakuan itu, lanjut Jero Wacik, dilihat dari kesadaran Indonesia yang telah memandang sektor pariwisata sebagai industri yang menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan ekonomi, menumbuhkan peluang untuk mengurangi kemiskinan, dan ramah lingkungan.

Menurut Jero Wacik, UNWTO juga menilai Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir telah mengalami kemajuan pesat dalam bidang pariwisata. "Dia (Sekjen UNWTO Taleb Rifai) mengatakan bahwa ini kesempatan emas bagi Indonesia karena banyak sekali investor sudah mau akan datang ke Indonesia untuk investasi," tutupnya.

Selengkapnya...

Rabu, 08 Juni 2011

Universal Pancasila di Mata Dunia

0 comments

Jakarta - Lansiran AntaraNews (8/6/2011) : Pancasila kembali menjadi buah bibir di Indonesia, bahkan menyita ruang dan waktu di multimemedia massa, setelah peringatan hari lahirnya pada 1 Juni 2011. Prof DR Sri Edi Swasono pun berpendapat bahwa sekarang orang ramai-ramai adu pamer perlunya menegakkan Pancasila.

Sri Edi Swasono mengutip kembali pendapat mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Soeharto, Daoed Joesoef, yang pada 2008 mengingatkan agar jangan menyesal kalau Pancasila diambil negara tetangga. Juga penegasan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan lainnya di era Presiden Soeharto, Prof DR Dipl Ing Wardiman Djojonegoro, tentang bermanfaatnya penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) bagi mahasiswa baru sebagai tuntunan dan pembentukan sikap dan tingkah laku sesuai nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Klimak dari peniadaan produk-produk warisan Orde Baru, termasuk juga tergusurnya Pancasila dan Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP-7) dengan berbagai pasang surut dan dinamika, kini sampai pada tahapan anti-klimaks di mana Pancasila sudah diwacanakan untuk bisa dijadikan mata pelajaran kembali yang mandiri dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi (PT) untuk dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila mampu menunjukan kesaktiannya mengalahkan paham dan nilai-nilai lain yang juga  hidup, tumbuh dan berkembang subur di bumi Indonesia sebagai dasar, landasan, tuntunan dan pegangan dalam semua aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Pancasila sebagai falsafah, nilai-nilai dan pandangan hidup merupakan suatu kekuatan ideologi bangsa yang setara dengan Nilai-nilai Asia, Nilai-nilai Konfusian. Nilai-nilai Islami dan juga Nilai-nilai Kristiani.

Di kota Rotterdam, Belanda, pada 20 Oktober 1990 Prof. Dr. Pyotr Hessling yang mengasuh mata kuliah Studi Internasional Organisasi dan Manajemen pada Fakultas Ekonomi Universitas Erasmus Rotterdam di hadapan para staf asistennya yang  sedang dibimbingnya menyelesaikan thesis Ph D,  tiga orang berasal dari Indonesia Soeksmono Besar Martokoesoemo, Petrus Suryadi Sutrisno dan Santo Koesoebjono serta Penelope (Penny)  Webb, asistennya Michael Porter, secara mengagumkan menjelaskan konsep “musyawarah” dan “mufakat” ala Indonesia sebagai dasar dalam pembangunan kelembagaan bagi suatu organisasi  dan manajemen.

Hessling, yang dikenal sebagai ahli Indonesia, mengatakan bahwa suatu konsep-konsep umum perlu dikemukakan secara jelas dalam penataan organisasi dan manajemen, misalnya dalam kasus seperti pengambilan keputusan manajemen di Indonesia. Organisasi bisa saja mengikuti konsep model yang disebut “Gotong Royong” (Mutual Aid), kemudian “musyawarah” dan “mufakat” (decision by consensus serta penghormatan kepada orang yang lebih tua atau dituakan.

Hessling masih menyebut dan menggarisbawahi bahwa “musyawarah” dan “mufakat” merupakan nilai-nilai yang menjadi sari dari dasar negara Indonesia yang disebut Pancasila.Ia juga membandingkan betapa nilai-nilai Pancasila sebagai konsep manajemen organisasi lebih efektif ketimbang konsep manajemen pengambilan keputusan melalui voting.

Catatan tentang bagaimana piawainya Hessling mengidentifikasi nilai-nilai Pancasila yang disebut “musyawarah” dan “mufakat” sebagai salah satu konsep umum yang menjadi landasan pengambilan keputusan dalam organisasi-manajemen merupakan bukti bahwa Pancasila sebenarnya sudah “go international” sebelum tahun 2000 atau sebelum Reformasi lahir di Indonesia. Pancasila diakui oleh ilmuwan Barat sebagai suatu nilai-nilai dan konsep yang mampu memberikan kontribusi bagi proses inovasi dan perubahan lingkungan.

Di saat resepsi pernikahan Marina Mahathir, puteri mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Datuk Seri DR Mahathir Mohammad, pada Juni 1986, satu dari tiga pendukung utama kepemimpinan Mahathir Mohammad yang hadir di resepsi sempat mendiskusikan pentingnya rakyat Malaysia belajar nilai-nilai (asas) kenegaraan kebangsaan, seperti Pancasila, meskipun Malaysia juga memiliki Rukun Negara yang juga berisi lima dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat itu salah seorang pendukung Mahathir mengatakan, betapa pentingnya nilai-nilai pemersatu, nilai-nilai kebersamaan dan kesadaran menciptakan suasana kehidupan sosial yang selaras, serasi dan toleran.

Ia mendengar bahwa dalam sosialisasi dan penataran P-4 kasus-kasus dan aktualisasi implementasi nilai-nilai semacam itu menjadi pembahasan dan perdebatan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Karena itu, katanya, mengapa tidak orang Malaysia belajar dari Indonesia tentang nilai-nilai sosial budaya yang baik. Ia berharap bahwa kelak ada warga Malaysia yang berhasil ikut Program P-4 di BP 7. Ternyata, di tahun 1987 seorang warganegara Malaysia berhasil lulus mengikuti program P-4 di BP-7.

Beberapa mahasiswa yang mempelajari ilmu politik di Universiti Kebangsaan Malaysia menjelang era 1990 an mengatakan bahwa teman-teman di Indonesia memiliki faktor pengikat atau pemersatu yang kokoh dibandingkan Malaysia, faktor pengikat itu adalah nilai-nilai Pancasila.

Gambaran Pancasila diapresiasi oleh bukan warganegara Indonesia di luar negeri merupakan suatu hal yang patut diperhatikan oleh semua warga negara Indonesia sebagai pemilik nilai-nilai Pancasila. Apakah orang Belanda dan orang Malaysia yang mengapresiasi nilai-nilai  Pancasila harus kita cegah dan halangi karena alasan mereka bukan warga negara Indonesia pemilik yang sah dari nilai-nilai Pancasila ?

Sementara itu, kita warga negara RI sebagai pemilik sah Pancasila justru mengabaikan dan melupakan peran sentral Pancasila sebagai dasar dan falsafah. BP 7 sebagai badan yang menyelenggarakan sosialisasi, pendidikan dan pengamalan Pancasila justru dihilangkan peran, fungsi dan eksistensinya pada awal Orde Reformasi.

Mestinya sebagai warga negara Indonesia kita harus malu terhadap orang Belanda dan orang Malaysia, karena kita telah mengabaikan Pancasila sebagai nilai-nilai dan kekayaan ideologi asli nasional Indonesia, apalagi membiarkan dan  tidak  menyesal manakala Pancasila diambil negara lain.

Karena itu, salah satu upaya untuk menegakan kembali Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah serta pedoman hidup rakyat Indonesia sehari-hari nampaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain perlu konsensus nasional untuk mereaktualisasi Pancasila dalam kehidupan nyata sehari-hari, BP-7 harus dihidupkan kembali dengan tambahan tugas pokok mengaktualisasi Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila/P-4 secara kongkrit dan terprogram, menjadikan Pancasila sebagai bahan pelajaran sekolah dari mulai SD sampai PT.

Bukan tidak mustahil jika 50 tahun ke masa depan, para mahasiswa atau ilmuwan asing yang ingin mempelajari nilai-nilai luhur Pancasila sebagai ideologi khas Indonesia akan mengalami kesulitan untuk memperoleh data dan dokumentasi yang berkaitan dengan Pancasila. Tidak bisa kita bayangkan kalau untuk mempeorleh data dan dokumentasi tentang Pancasila yang khas Indonesia kita harus mencarinya di negeri Belanda atau di negara tetangga Malaysia atau Singapura. Karena itu jugalah mungkin Daoed Joesoef mengingatkan agar kita jangan menyesal jika Pancasila di ambil negara tetangga.

Tentunya kita berharap apa yang dikatakan Daoed Joesoef itu tidak pernah terjadi. Karena apresiasi orang Belanda dan orang Malaysia terhadap nilai-nilai Pancasila merupakan bukti nyata bahwa Pancasila juga bukan hanya milik orang Indonesia tetapi juga milik orang warga negara lain. Maknanya adalah Pancasila sebenarnya memiliki nilai-nilai universalitas yang hakiki dan dapat diterima secara internasional.

Presiden AS Barrack Obama saja ketika didaulat bicara di kampus Universitas Indonesia Depok juga menyebut Pancasila secara positif. Hal itu sekali lagi ikut membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila memiliki sisi yang universal bukan hanya nilai-nilai lokal yang diakui makna dan eksistensinya dalam kehidupan masyarakat Indonesia tapi juga di luar bumi Indonesia.


Selengkapnya...

Lagu Asal Indonesia Masih Cukup Digemari Negeri Jiran Malaysia

0 comments

Kuala Lumpur - dikutip dari - ANTARA News (8/6/2011) - Lagu-lagu yang dibawakan oleh penyanyi ataupun grup band asal Indonesia masih mendapatkan tempat di hati penggemarnya di Malaysia.

"Pasarnya ada, tapi tergantung dari lagu-lagu yang dibawakan. Lagu baru terutama yang laku di Indonesia berpeluang untuk punya pasar di sini," kata General Manager Tropic Jaya Entertainment Sdn Berhad, Suminto di sela-sela peluncuran album duet Anang-Ashanty berjudul "Jodohku" di Kuala Lumpur, Selasa.

Tapi, lanjut dia, tidak semuanya lagu yang di Indonesia populer juga mendapat pasar yang tinggi di negara itu.

Contohnya, ketika lagu-lagu beberapa penyanyi yang saat itu populer di Indonesia, ternyata penjualan CD nya hanya 30 ribu keping. Di sisi lain, grup band Wali yang pada album I tidak meledak tapi pada album ke dua (cari jodoh) penjualannya bisa mencapai 100 ribu keping.

Diakuinya, memang sulit untuk menargetkan penjualan tinggi karena banyak faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah mengunduh lagu-lagu dari Internet.

Namun demikian, sejumlah penyanyi dan grup band Indonesia masih mendapatkan perhatian yang bagus di negeri ini karena hampir tiap bulan ada saja artis ataupun grup band Indonesia baik pentas di negeri ini.

Misalnya, pada bulan April lalu, penyanyi kawakan Indonesia, Bob Tutupoly menghibur para penggemarnya di salah satu hotel bintang lima di Kuala Lumpur.

Selanjutnya, Grup band legendaris D`lloyd juga tampil apik dihadapan penggemarnya di Kuala Lumpur, bahkan pentas grup band asal Indonesia ini berlangsung selama tiga hari dengan membawakan lebih dari 20 lagu-lagu mereka yang pernah populer di zamannya.

Bahkan, pada tanggal 9 dan 10 Juni 2011, penyanyi bersuara merdu, Rossa juga akan tampil menghibur para penggemarnya di Damansara, Selanggor.

Pada bulan-bulan mendatang juga direncanakan sejumlah artis Indonesia manggung di negeri jiran ini.

Suminto membenarkan hal tersebut karena pihaknya juga pada bulan Juli 2011 juga berencana mendatangkan Opick, penyanyi yang kerap membawakan lagu-lagu bernafaskan Islam.

"Setelah Anang dan Ashanti, kami berencana datangkan Opick pada bulan Juli yang sasarannya guna menyambut bulan suci Ramadhan yang akan datang sebentar lagi,` ungkapnya. Ketika ditanya tanggalnya, ia belum bisa memastikan.
 
Selengkapnya...

Kamis, 26 Mei 2011

Bahasa Indonesia Mampu Mempererat Hubungan Indonesia dan Norwegia

0 comments

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja. Ternyata bahasa Indonesia ini cukup di kenal di Norwegia.

Duta Besar RI untuk Oslo, Norwegia, Esti Andayani mengatakan Bahasa Indonesia yang banyak digemari warga Oslo berhasil mempererat hubungan Indonesia dan Norwegia.

KBRI Oslo menyelenggarakan acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang dihadiri warga Norwegia yang mengikuti kursus Bahasa Indonesia di KBRI.  Acara meliputi pengenalan arti penting Kebangkitan Nasional bagi masyarakat Indonesia, dan gathering dengan peserta dan alumni kursus bahasa Indonesia.

Mengutip Sekretaris Tiga KBRI Oslo, Febby Fahrani, Kamis, Dubes mengatakan, Bahasa Indonesia memiliki arti penting dalam memperkokoh semangat kebangsaan yang antara lain dirintis sejakBudi Utomo tahun 1908 hingga Sumpah Pemuda pada 1928.

Dubes menyebutkan minat mempelajari Bahasa Indonesia adalah langkah awal mengenal bangsa Indonesia dengan karakter kebangsaan yang tinggi. 

Ia menyampaikan apresiasi tinggi bagi peserta dan alumni, dan harapan agar dari kemampuan berbahasa peserta dan alumni dapat memahami Indonesia dan menjadi cinta Indonesia.

Dubes menytakan peserta kursus dari Friends of Indonesia itu adalah bagian dari keluarga besar Indonesia di Oslo.

Dalam gathering, peserta dan alumni juga menyampaikan kesan kesan dan alasan ketertarikan untuk mempelajari bahasa Indonesia.

Anne Rennevig menyatakan kursus bahasa Indonesia yang rutin semakin meningkatkan hubungan usaha yang dirintisnya di Lombok. 

Sementara Casper Molthe dan Christina Kloster menyatakan kemampuan mereka berbahasa Indonesia semakin mempererat hubungan persahabatan dengan teman-teman mereka di Indonesia.

Gathering ditutup dengan pemutaran video pariwisata Indonesia dan jamuan makan malam dengan sajian hidangan khas Indonesia berupa bihun goreng, bakwan sayur, lumpia, rempeyek, keripik pisang dan es teler diharapkan membuat masyarakat Norwegia semakin memahmi Indonesia.

sumber : antaranews


Selengkapnya...