Pages

 

Kamis, 23 Juni 2011

Menggali Potensi Muda Di Kompetisi Roket Indonesia

0 comments

Roket merupakan wahana luar angkasa, peluru kendali, atau kendaraan terbang yang mendapatkan dorongan melalui reaksi roket terhadap keluarnya secara cepat bahan fluida dari keluaran mesin roket. Aksi dari keluaran dalam ruang bakar dan nozle pengembang, mampu membuat gas mengalir dengan kecepatan hipersonik sehingga menimbulkan dorongan reaktif yang besar untuk roket (sebanding dengan reaksi balasan sesuai dengan Hukum Pergerakan Newton ke 3). Seringkali definisi roket digunakan untuk merujuk kepada mesin roket.(wikipedia)

sekarang ini roket menjadi penentu bagi sebuah negara berjati diri, semakin teknologi roket berkembang dalam suatu negara secara tidak langsung negara itu disegani dan dikenal oleh negara lain. teknologi roket di Indonesia dewasa ini sudah bisa dikatakan berkembang pesat, bahkan di Tahun 2014 Indonesia siap mengorbitkan satelit dengan teknologi roket peluncur buatan sendiri. 

pencarian bibit unggul berskil ilmu kedirgantaraan terus dicari keberadaannya diseluruh pelosok Indonesia, kompetisi roket nasional merupakan salah satu cara untuk menggali potensi muda Indonesia dalam pengembangan roket nasional.

Dilansir Kompas (23/6/2011) : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Kemdiknas) bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menggelar kompetisi muatan roket Indonesia (Komurindo) 2011. Tema yang diangkat dalam kompetisi ini adalah "Attitude Monitoring and Surveillance", Komurindo 2011 rencananya akan dilangsungkan selama tiga hari, 25-27 Juni di Pantai Pandansimo, Srandakan, Bantul Yogyakarta.
"Kompetisi ini merupakan ajang kompetisi prestasi di bidang rancang bangun muatan roket bagi mahasiswa Indonesia," kata Direktur Jenderal Dikti Kemdiknas, Djoko Santoso kepada wartawan, Kamis (23/6/2011), di Jakarta. 

Sesuai dengan temanya, kompetisi ini digelar untuk mendapatkan juara hasil rancang bangun muatan roket (payload) yang mampu kembali atau menuju sasaran yang telah ditentukan (homming) setelah terlepas dan terpisah dari roket peluncur seri RUM70-100-LPN. 

"Roket ini berbahan bakar propelan padat dan dapat mencapai tinggi terbang dua Kilometer," kata Djoko.
Adapun persyaratannya, Djoko menjelaskan, muatan roket yang dilombakan adalah berbentuk silinder berisi rangkaian elektronik dan sistem akuator yang berfungsi sebagai perangkat telemetri untuk metereologi dengan menggunakan tiga macam sensor. sensor itu adalah temperatur, tekanan dan kelembaban. Pemandu arah terbang muatan menuju sasaran menggunakan kompas dan bersifat aotonomous sekaligus bisa berkomunikasi dengan sistem kendali operator di ground segment. 

"Kompetisi ini bertujuan untuk penyiapan bibit unggul yang berminat menggeluti teknologi kedirgantaraan, khususnya roket. Negara manapun yang secara mandiri telah menguasai teknologi roket akan disegani oleh bangsa-bangsa di dunia. Sebab, roket mempunyai nilai strategis, baik dalam keadaan damai maupun untuk keperluan pertahanan, semisal bisa digunakan sevagai roket peluncur satelit ke ruang orbit, roket sonda pemantau cuaca ataupun sebagai pelontar peluru kendali dan senjata roket balistik," papar Djoko.
Kompetisi tahun ini merupakan ketigakalinya sejak tahun 2008 dan akan diikuti oleh 40 tim perwakilan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Masing-masing tim terdiri dari tiga orang mahasiswa dan seorang dosen pembimbing dengan total hadiah puluhan juta rupiah. 

Selengkapnya...

Selasa, 17 Mei 2011

Sejarah Polisi Republik Indonesia

0 comments

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) adalah Kepolisian Nasional di Indonesia, yang bertanggung jawab langsung di bawah Presiden. Polri mengemban tugas-tugas kepolisian di seluruh wilayah Indonesia. Polri dipimpin oleh seorang Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri). Sejak 22 Oktober 2010 Kapolri dijabat oleh Jenderal Polisi Timur Pradopo.

Zaman Hindia Belanda

Kedudukan, tugas, fungsi, organisasi, hubungan dan tata cara kerja kepolisian pada zaman Hindia Belanda tentu diabdikan untuk kepentingan pemerintah kolonial. Sampai jatuhnya Hindia Belanda, kepolisian tidak pernah sepenuhnya di bawah Departemen Dalam Negeri. Di Departemen Dalam Negeri memang berkantor "Hoofd van de Dienst der Algemene Politie" yang hanya bertugas di bidang administrasi/pembinaan, seperti kepegawaian, pendidikan SPN (Sekolah Polisi Negeri di Sukabumi), dan perlengkapan kepolisian.
Wewenang operasional kepolisian ada pada residen yang dibantu asisten residen. Rechts politie dipertanggungjawabkan pada procureur generaal (jaksa agung). Pada masa Hindia Belanda terdapat bermacam-macam bentuk kepolisian, seperti veld politie (polisi lapangan) , stands politie (polisi kota), cultur politie (polisi pertanian), bestuurs politie (polisi pamong praja), dan lain-lain.
Sejalan dengan administrasi negara waktu itu, pada kepolisian juga diterapkan pembedaan jabatan bagi bangsa Belanda dan pribumi. Pada dasarnya pribumi tidak diperkenankan menjabat hood agent (bintara), inspekteur van politie, dan commisaris van politie. Untuk pribumi selama menjadi agen polisi diciptakan jabatan seperti mantri polisi, asisten wedana, dan wedana polisi. Demikian pula dalam praktik peradilan pidana terdapat perbedaan kandgerecht dan raad van justitie.

Zaman pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang 1942-1945, pemerintahan kepolisan Jepang membagi Indonesia dalam dua lingkungan kekuasaan, yaitu:
  1. Sumatera, Jawa, dan Madura dikuasai oleh Angkatan Darat Jepang.
  2. Indonesia bagian timur dan Kalimantan dikuasai Angkatan Laut Jepang.
Dalam masa ini banyak anggota kepolisian bangsa Indonesia menggantikan kedudukan dan kepangkatan bagi bangsa Belanda sebelumnya. Pusat kepolisian di Jakarta dinamakan keisatsu bu dan kepalanya disebut keisatsu elucho. Kepolisian untuk Jawa dan Madura juga berkedudukan di Jakarta, untuk Sumatera berkedudukan di Bukittinggi, Indonesia bagian timur berkedudukan di Makassar, dan Kalimantan berkedudukan di Banjarmasin.
Tiap-tiap kantor polisi di daerah meskipun dikepalai oleh seorang pejabat kepolisian bangsa Indonesia, tapi selalu didampingi oleh pejabat Jepang yang disebut sidookaan yang dalam praktik lebih berkuasa dari kepala polisi.
Beda dengan zaman Hindia Belanda yang menganut HIR, pada akhir masa pendudukan Jepang yang berwenang menyidik hanya polisi dan polisi juga memimpin organisasi yang disebut keibodan (semacam hansip).

Zaman revolusi fisik

Tidak lama setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, pemerintah militer Jepang membubarkan Peta dan Gyu-Gun, sedangkan polisi tetap bertugas, termasuk waktu Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Secara resmi kepolisian menjadi kepolisian Indonesia yang merdeka.
Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Mochammad Jassin, Komandan Polisi di Surabaya, pada tanggal 21 Agustus 1945 memproklamasikan kedudukan polisi sebagai Polisi Republik Indonesia menyusul dibentuknya Badan Kepolisian Negara (BKN) oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 19 Agustus 1945. Pada 29 September 1945 Presiden RI melantik Kepala Kepolisian RI (Kapolri) pertama Jenderal Polisi R.S. Soekanto. Adapun ikrar Polisi Istimewa tersebut berbunyi:
“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menyatakan Poelisi Istimewa sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia.”

Kepolisian pasca proklamasi

Setelah proklamasi, tentunya tidak mungkin mengganti peraturan perundang-undangan, karena masih diberlakukan peraturan perundang-undangan Hindia Belanda, termasuk mengenai kepolisian, seperti tercantum dalam peraturan peralihan UUD 1945.
Tanggal 1 Juli 1946 dengan Ketetapan Pemerintah No. 11/SD/1946 dibentuk Djawatan Kepolisian Negara yang bertanggung jawab langsung kepada perdana menteri. Semua fungsi kepolisian disatukan dalam Jawatan Kepolisian Negara yang memimpin kepolisian di seluruh tanah air. Dengan demikian lahirlah Kepolisian Nasional Indonesia yang sampai hari ini diperingati sebagai Hari Bhayangkara.
Hal yang menarik, saat pembentukan Kepolisian Negara tahun 1946 adalah jumlah anggota Polri sudah mencapai 31.620 personel, sedang jumlah penduduk saat itu belum mencapai 60 juta jiwa. Dengan demikian “police population ratio” waktu itu sudah 1:500. (Pada 2001, dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa, jumlah polisi hanya 170 ribu personel, atau 1:1.300)
Sebagai bangsa dan negara yang berjuang mempertahankan kemerdekaan maka Polri di samping bertugas sebagai penegak hukum juga ikut bertempur di seluruh wilayah RI. Polri menyatakan dirinya “combatant” yang tidak tunduk pada Konvensi Jenewa. Polisi Istimewa diganti menjadi Mobile Brigade, sebagai kesatuan khusus untuk perjuangan bersenjata, seperti dikenal dalam pertempuran 10 November di Surabaya, di front Sumatera Utara, Sumatera Barat, penumpasan pemberontakan PKI di Madiun, dan lain-lain.
Pada masa kabinet presidential, pada tanggal 4 Februari 1948 dikeluarkan Tap Pemerintah No. 1/1948 yang menetapkan bahwa Polri dipimpin langsung oleh presiden/wakil presiden dalam kedudukan sebagai perdana menteri/wakil perdana menteri.
Pada masa revolusi fisik, Kapolri Jenderal Polisi R.S. Soekanto telah mulai menata organisasi kepolisian di seluruh wilayah RI. Pada Pemerintahan Darurat RI (PDRI) yang diketuai Mr. Sjafrudin Prawiranegara berkedudukan di Sumatera Tengah, Jawatan Kepolisian dipimpin KBP Umar Said (tanggal 22 Desember 148).

Zaman Republik indonesia Serikat (RIS)

Hasil Konferensi Meja Bundar antara Indonesia dan Belanda dibentuk Republik Indonesia Serikat (RIS), maka R.S. Sukanto diangkat sebagai Kepala Jawatan Kepolisian Negara RIS dan R. Sumanto diangkat sebagai Kepala Kepolisian Negara RI berkedudukan di Yogyakarta.
Dengan Keppres RIS No. 22 tahun 1950 dinyatakan bahwa Jawatan Kepolisian RIS dalam kebijaksanaan politik polisional berada di bawah perdana menteri dengan perantaraan jaksa agung, sedangkan dalam hal administrasi pembinaan, dipertanggungjawabkan pada menteri dalam negeri.
Umur RIS hanya beberapa bulan. Sebelum dibentuk Negara Kesatuan RI pada tanggal 17 Agustus 1950, pada tanggal 7 Juni 1950 dengan Tap Presiden RIS No. 150, organisasi-organisasi kepolisian negara-negara bagian disatukan dalam Jawatan Kepolisian Indonesia. Dalam peleburan tersebut disadari adanya kepolisian negara yang dipimpin secara sentral, baik di bidang kebijaksanaan siasat kepolisian maupun administratif, organisatoris.

Zaman Demokrasi Parlementer

Dengan dibentuknya negara kesatuan pada 17 Agustus 1950 dan diberlakukannya UUDS 1950 yang menganut sistem parlementer, Kepala Kepolisian Negara tetap dijabat R.S. Soekanto yang bertanggung jawab kepada perdana menteri/presiden.
Waktu kedudukan Polri kembali ke Jakarta, karena belum ada kantor digunakan bekas kantor Hoofd van de Dienst der Algemene Politie di Gedung Departemen Dalam Negeri. Kemudian R.S. Soekanto merencanakan kantor sendiri di Jalan Trunojoyo 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dengan sebutan Markas Besar Djawatan Kepolisian Negara RI (DKN) yang menjadi Markas Besar Kepolisian sampai sekarang. Ketika itu menjadi gedung perkantoran termegah setelah Istana Negara.
Sampai periode ini kepolisian berstatus tersendiri antara sipil dan militer yang memiliki organisasi dan peraturan gaji tersendiri. Anggota Polri terorganisir dalam Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia (P3RI) tidak ikut dalam Korpri, sedangkan bagi istri polisi semenjak zaman revolusi sudah membentuk organisasi yang sampai sekarang dikenal dengan nama Bhayangkari tidak ikut dalam Dharma Wanita ataupun Dharma Pertiwi. Organisasi P3RI dan Bhayangkari ini memiliki ketua dan pengurus secara demokratis dan pernah ikut Pemilu 1955 yang memenangkan kursi di Konstituante dan Parlemen. Waktu itu semua gaji pegawai negeri berada di bawah gaji angkatan perang, namun P3RI memperjuangkan perbaikan gaji dan berhasil melahirkan Peraturan Gaji Polisi (PGPOL) di mana gaji Polri relatif lebih baik dibanding dengan gaji pegawai negeri lainnya (mengacu standar PBB).
Dalam periode demokrasi parlementer ini perdana menteri dan kabinet berganti rata-rata kurang satu tahun. Polri yang otonom di bawah perdana menteri membenahi organisasi dan administrasi serta membangun laboratorium forensik, membangun Polisi Perairan (memiliki kapal polisi berukuran 500 ton) dan juga membangun Polisi Udara serta mengirim ratusan perwira Polri belajar ke luar negeri, terutama ke Amerika Serikat.

Zaman Demokrasi Terpimpin

Dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, setelah kegagalan Konstituante, Indonesia kembali ke UUD 1945, namun dalam pelaksanaannya kemudian banyak menyimpang dari UUD 1945. Jabatan Perdana Menteri (Alm. Ir. Juanda) diganti dengan sebutan Menteri Pertama, Polri masih tetap di bawah pada Menteri Pertama sampai keluarnya Keppres No. 153/1959, tertanggal 10 Juli di mana Kepala Kepolisian Negara diberi kedudukan Menteri Negara ex-officio.
Pada tanggal 13 Juli 1959 dengan Keppres No. 154/1959 Kapolri juga menjabat sebagai Menteri Muda Kepolisian dan Menteri Muda Veteran. Pada tanggal 26 Agustus 1959 dengan Surat Edaran Menteri Pertama No. 1/MP/RI1959, ditetapkan sebutan Kepala Kepolisian Negara diubah menjadi Menteri Muda Kepolisian yang memimpin Departemen Kepolisian (sebagai ganti dari Djawatan Kepolisian Negara).
Waktu Presiden Soekarno menyatakan akan membentuk ABRI yang terdiri dari Angkatan Perang dan Angkatan Kepolisian, R.S. Soekanto menyampaikan keberatannya dengan alasan untuk menjaga profesionalisme kepolisian. Pada tanggal 15 Desember 1959 R.S. Soekanto mengundurkan diri setelah menjabat Kapolri/Menteri Muda Kepolisian, sehingga berakhirlah karier Bapak Kepolisian RI tersebut sejak 29 September 1945 hingga 15 Desember 1959.
Dengan Tap MPRS No. II dan III tahun 1960 dinyatakan bahwa ABRI terdiri atas Angkatan Perang dan Polisi Negara. Berdasarkan Keppres No. 21/1960 sebutan Menteri Muda Kepolisian ditiadakan dan selanjutnya disebut Menteri Kepolisian Negara bersama Angkatan Perang lainnya dan dimasukkan dalam bidang keamanan nasional.
Tanggal 19 Juni 1961, DPR-GR mengesahkan UU Pokok kepolisian No. 13/1961. Dalam UU ini dinyatakan bahwa kedudukan Polri sebagai salah satu unsur ABRI yang sama sederajat dengan TNI AD, AL, dan AU.
Dengan Keppres No. 94/1962, Menteri Kapolri, Menteri/KASAD, Menteri/KASAL, Menteri/KSAU, Menteri/Jaksa Agung, Menteri Urusan Veteran dikoordinasikan oleh Wakil Menteri Pertama bidang pertahanan keamanan. Dengan Keppres No. 134/1962 menteri diganti menjadi Menteri/Kepala Staf Angkatan Kepolisian (Menkasak).
Kemudian Sebutan Menkasak diganti lagi menjadi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian (Menpangak) dan langsung bertanggung jawab kepada presiden sebagai kepala pemerintahan negara. Dengan Keppres No. 290/1964 kedudukan, tugas, dan tanggung jawab Polri ditentukan sebagai berikut:
  1. Alat Negara Penegak Hukum.
  2. Koordinator Polsus.
  3. Ikut serta dalam pertahanan.
  4. Pembinaan Kamtibmas.
  5. Kekaryaan.
  6. Sebagai alat revolusi.
Berdasarkan Keppres No. 155/1965 tanggal 6 Juli 1965, pendidikan AKABRI disamakan bagi Angkatan Perang dan Polri selama satu tahun di Magelang. Sementara di tahun 1964 dan 1965, pengaruh PKI bertambah besar karena politik NASAKOM Presiden Soekarno, dan PKI mulai menyusupi memengaruhi sebagian anggota ABRI dari keempat angkatan.

Zaman Orde Baru

Karena pengalaman yang pahit dari peristiwa G30S/PKI yang mencerminkan tidak adanya integrasi antar unsur-unsur ABRI, maka untuk meningkatkan integrasi ABRI, tahun 1967 dengan SK Presiden No. 132/1967 tanggal 24 Agustus 1967 ditetapkan Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Bindang Pertahanan dan Keamanan yang menyatakan ABRI merupakan bagian dari organisasi Departemen Hankam meliputi AD, AL, AU , dan AK yang masing-masing dipimpin oleh Panglima Angkatan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan kewajibannya kepada Menhankam/Pangab. Jenderal Soeharto sebagai Menhankam/Pangab yang pertama.
Setelah Soeharto dipilih sebagai presiden pada tahun 1968, jabatan Menhankam/Pangab berpindah kepada Jenderal M. Panggabean. Kemudian ternyata betapa ketatnya integrasi ini yang dampaknya sangat menyulitkan perkembangan Polri yang secara universal memang bukan angkatan perang.
Pada tahun 1969 dengan Keppres No. 52/1969 sebutan Panglima Angkatan Kepolisian diganti kembali sesuai UU No. 13/1961 menjadi Kepala Kepolisian Negara RI, namun singkatannya tidak lagi KKN tetapi Kapolri. Pergantian sebutan ini diresmikan pada tanggal 1 Juli 1969.
Pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1969 sebutan Panglima AD, AL, dan AU diganti menjadi Kepala Staf Angkatan. Pada kesempatan tersebut anggota AL danAU memakai tanda TNI di kerah leher, sedangkan Polri memakai tanda Pol. Maksudnya untuk menegaskan perbedaan antara Angkatan Perang dan Polisi.

Pasukan Polisi Republik Indonesia

Tumbuh dan berkembangnya Polri tidak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia sejak Proklamasi. Kemerdekaan Indonesia, Polri telah dihadapkan pada tugas-tugas yang unik dan kompleks. Selain menata keamanan dan ketertiban masyarakat di masa perang, Polri juga terlibat langsung dalam pertempuran melawan penjajah dan berbagai operasi militer bersama-sama kesatuan bersenjata yang lain. Keadaan seperti ini dilakukan oleh Polri karena Polri lahir sebagai satu-satunya kesatuan bersenjata yang relatif lebih lengkap.
Hanya empat hari setelah kemerdekaan, tanggal 21 Agustus 1945, secara tegas pasukan polisi ini segera mengganti nama menjadi Pasukan Polisi Republik Indonesia yang sewaktu itu dipimpin oleh Inspektur Kelas I Polisi Mochammad Jassin di Surabaya, langkah awal yang dilakukan selain mengadakan pembersihan dan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang yang kalah perang, juga membangkitkan semangat moral dan patriotisme seluruh rakyat maupun persatuan bersenjata lain yang patah semangat akibat kekalahan perang yang panjang.
Tanggal 29 September 1945 tentara Sekutu yang di dalamnya juga terdapat ribuan tentaraBelanda menyerbu Indonesia dengan alasan ingin menghalau tentara Jepang dari negara tersebut. Pada kenyataannya pasukan Sekutu tersebut justru ingin membantu Belanda menjajah kembali Indonesia. Oleh karena itu perang antara sekutu dengan pasukan Indonesia terjadi di mana-mana. Klimaksnya terjadi pada tanggal 10 November 1945, yang dikenal sebagai "Pertempuran Surabaya". Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai Hari Pahlawan secara Nasional yang setiap tahun diperingati oleh rakyat Indonesia.
Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya menjadi sangat penting dalam sejarah Indonesia, bukan hanya karena ribuan rakyat Indonesia gugur, tetapi lebih dari itu karena semangat perwiranya mampu menggetarkan dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih melihat eksisnya bangsa dan negara Indonesia di mata dunia. Kini tugas Polri yang utama ialah menjaga keamanan dan ketertiban di dalam negeri, Polri juga semakin sibuk dengan berbagai operasi, seperti Operasi Ketupat menjelang Idul Fitri, Operasi Lilin menjelang Natal, dan lain-lain.

Sumber : Wikipedia Bahasa Indonesia
Selengkapnya...

Sejarah TNI Angkatan Udara

0 comments

TNI AU lahir dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu berkekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. pada tanggal 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara. Pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia, yang kini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada 29 Juli 1947 tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Modal awal TNI AU adalah pesawat-pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Churen, Nishikoren, serta Hayabusha. Pesawat-pesawat inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya TNI AU. Setelah keputusan Konferensi Meja Bundar tahun 1949, TNI AU menerima beberap aset Angkatan Udara Belanda meliputi pesawat terbang, hanggar, depo pemeliharaan, serta depo logistik lainnya. Beberapa jenis pesawat Belanda yang diambil alih antara lain C-47 Dakota,B-25 Mitchell,P-51 Mustang,AT-6 Harvard,PBY-5 Catalina, dan Lockheed L-12.
Tahun 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang calon penerbang ke California Amerika Serikat, mengikuti pendidikan terbang pada Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA). Saat itu TNI AU memiliki pesawat dari Uni Sovyet dan Eropa Timur, berupa MiG-17, pembom TUPOLEV TU-2, dan pemburu LAVOCKHIN LA-11. Pesawat-pesawat ini mengambil peran dalam Operasi Trikora dan Dwikora.
TNI AU mengalami popularitas nasional tinggi dibawah dipimpin oleh KASAU Kedua Marsekal Madya TNI Omar Dhani awal 1960-an. TNI AU memperbarui armadanya pada awal tahun 1980-an dengan kedatangan pesawat OV-10 Bronco, A-4 Sky Hawk, F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon, dan Hawk 100/200.

sumber : wikipedia 


Selengkapnya...

Sejarah TNI Angkatan Darat

0 comments

Perjalanan Sejarah Perjuangan TNI . Pada awal kemerdekaan terakumulasi kekuatan bersenjata yang berasal dari para tokoh pejuang bersenjata, baik dari didikan Jepang (PETA), Belanda (KNIL), maupun mereka yang berasal dari lascar rakyat, inilah cikal bakal lahirnya TNI, yang dalam perkembangannya mengkonsolidasikan diri ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berturut-turut berganti nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), yang kembali menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), melalui penggabungan dengan Polri, dan berdasarkan Ketetapan MPR No. VI/MPR/2000 kembali menggunakan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah pemisahan peran antara TNI dan Polri. Sejak kelahirannya, TNI menghadapi berbagai tugas dalam rangka menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Pengabdian TNI kepada negara dapat dilihat dalam perjalanan sejarah perjuangannya sebagai berikut 

Mempertahankan Kemerdekaan . Segera setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia menghadapi Sekutu/Belanda yang berusaha menjajah kembali bangsa Indonesia . Kedatangan kembali Sekutu/Belanda mendapat perlawanan kekuatan TNI bersama rakyat, yaitu terjadi pertempuran di mana-mana, seperti di Semarang (1945), Ambarawa (1945), Surabaya (1945), Bandung Lautan Api (1946), Medan Area (1947), Palembang (1947), Margarana (1946), Menado (1946), Sanga-Sanga (1947), Agresi Militer Belanda I (1947), Agresi Militer Belanda II (1948), dan Serangan Umum 1 Maret 1949 sehingga bangsa Indonesia mampu mempertahankan pengakuan atas kemerdekaan dan kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949. Perjuangan ini berhasil berkat adanya kepercayaan diri yang kuat, semangat pantang menyerah, berjuang tanpa pamrih dengan tekad merdeka atau mati. Khusus pada saat menghadapi agresi militer Belanda Il, walaupun Pemerintah RI yang saat itu berpusat di Yogyakarta telah menyerah, Panglima Besar Jenderal Sudirman tetap melanjutkan perjuangannya, yaitu dengan cara bergerilya karena berpegang teguh pada prinsip kepentingan negara dan bangsa. 

Menjaga Keutuhan Bangsa dan Negara .
TNI bersama rakyat melaksanakan operasi dalam negeri seperti penumpasan terhadap PKI di Madiun 1948 dan G-30-S/PKI 1965, terhadap pemberontakan DI/Til di Jawa Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, terhadap PRRI di Sumatra Barat, Permesta di Menado, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, PGRS/Paraku di Kalimantan Barat, RMS di Ambon, GPLHT di Aceh, Dewan Ganda di Sumatra Selatan, dan OPM di Irian. Perjuangan ini dilaksanakan demi kepentingan menyelamatkan kehidupan berbangsa dan bernegara serta berpegang teguh pada prinsip demi kepentingan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia .
Operasi pengamanan dilaksanakan terhadap kegiatan kenegaraan seperti Pemilu, Sidang Umum / Sidang Istimewa MPR, dan pengamanan terhadap terjadinya konflik komunal. Operasi pengamanan ini didasarkan kepada kepentingan negara dan bangsa, penyelamatan kehidupan berbangsa dan bernegara.


Selengkapnya...

Daftar Kapal Perang TNI Angkatan LAut

0 comments
Semua kapal perang TNI Angkatan Laut didahului dengan inisial KRI yang berarti Kapal Perang Republik Indonesia. TNI AL memiliki kurang lebih 148 kapal perang berbagai kelas dan jenis, belum termasuk 2 kapal layar tiang tinggi yang ada di TNI AL.jumlah kapal perang dibawah ini belum termasuk kapal patroli yang panjangnya kurang dari 36 meter yang biasa disebut KAL atau kapal angkatan laut yang berjumlah 317 unit.

Di bawah ini adalah daftar kapal perang TNI Angkatan Laut sampai dengan 13 April 2009.

Sumber wikipedia bahasa Indonesia

Kapal latih layar

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Dewaruci
masih bertugas
2 KRI Arung Samudera
masih bertugas

Fregat kelas Ahmad Yani

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Ahmad Yani 351 masih bertugas Bekas HNLMS Van Speijk (F802), dibeli dari Belanda tahun 1986
2 KRI Slamet Riyadi 352 masih bertugas Bekas HNLMS Tjerk Hiddes (F804), dibeli dari Belanda tahun 1986
3 KRI Yos Sudarso 353 masih bertugas Bekas HNLMS Van Galen (F803), dibeli dari Belanda tahun 1987
4 KRI Oswald Siahaan 354 masih bertugas Bekas HNLMS Van Nes (F805), dibeli dari Belanda tahun 1986
5 KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355 masih bertugas Bekas HNLMS Evertsen (F815), dibeli dari Belanda tahun 1989
6 KRI Karel Satsuit Tubun 356 masih bertugas Bekas HNLMS Isaac Sweers (F814), dibeli dari Belanda

Fregat kelas Ki Hajar Dewantara

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Ki Hajar Dewantara 364 masih bertugas Fregat latih dibangun pada tahun 1981 di Uljanic SY, Split, Yugoslavia.

Fregat kelas Fatahillah

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Fatahillah 361 masih bertugas Dibangun di Belanda pada tahun 1979.
2 KRI Malahayati 362 masih bertugas Dibangun di Belanda pada tahun 1980.
3 KRI Nala 363 masih bertugas Dibangun di Belanda pada tahun 1980.

Korvet kelas Sigma

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Diponegoro 365 masih bertugas Dibangun di Belanda dan bertugas sejak 2 Juli 2007.
2 KRI Hasanuddin 366 masih bertugas Dibangun di Belanda dan bertugas sejak Januari 2008.
3 KRI Sultan Iskandar Muda 367 masih bertugas Dibangun di Belanda, dan akan bertugas pada September 2008.
4 KRI Frans Kaisiepo 368 selesai dibangun Dibangun di Belanda, dan diresmikan Juni 2009.

Korvet kelas Parchim

Merupakan bagian dari pembelian 39 kapal ex-Jerman Timur oleh B.J. Habibie pada tahun 1990-an pada masa pemerintahan Presiden Suharto.
# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Kapitan Patimura 371 masih bertugas Bekas Prenzlau (231), dibeli dari Jerman Timur.
2 KRI Cut Nyak Dien 375 masih bertugas Bekas Lübz (221), dibeli dari Jerman Timur.
3 KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376 masih bertugas Bekas Bad Doberan (222), dibeli dari Jerman Timur.
4 KRI Memet Sastrawiria 380 tenggelam di perairan Bengkulu Bekas Bützow (244), dibeli dari Jerman Timur.
5 KRI Imam Bonjol 383 masih bertugas Bekas Teterow (234), dibeli dari Jerman Timur.
6 KRI Pati Unus 384 masih bertugas Bekas Ludwiglust (232), dibeli dari Jerman Timur.
7 KRI Teuku Umar 385 masih bertugas Bekas Grevesmühlen (212), dibeli dari Jerman Timur.
8 KRI Silas Papare 386 masih bertugas Bekas Gadebusch (211), dibeli dari Jerman Timur.
9 KRI Hasan Basri 382 masih bertugas Bekas Güstrow (223), dibeli dari Jerman Timur.
10 KRI Untung Suropati 872 masih bertugas Bekas Ribnitz-Damgarten (233), dibeli dari Jerman Timur.
11 KRI Nuku 873 masih bertugas Bekas Waren (224), dibeli dari Jerman Timur.
12 KRI Lambung Mangkurat 874 masih bertugas Bekas Angermünde (214), dibeli dari Jerman Timur.
13 KRI Sutanto 877 masih bertugas Bekas Wismar (241), dibeli dari Jerman Timur tahun 1992.
14 KRI Sutedi Senoputra 878 masih bertugas Bekas Parchim (242), dibeli dari Jerman Timur dan aktif sejak 1994.
15 KRI Wiratno 879 masih bertugas Bekas Perleberg (243), dibeli dari Jerman Timur.
16 KRI Tjiptadi 881 masih bertugas Bekas Bergen (213), dibeli dari Jerman Timur.

Kapal selam kelas Cakra

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Cakra 401 masih bertugas
2 KRI Nanggala 402 masih bertugas

Kapal cepat rudal kelas Clurit

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Clurit 641 Proses Sea Trial Karya anak bangsa

Kapal cepat rudal kelas Mandau

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Mandau 621 masih bertugas
2 KRI Rencong 622 masih bertugas
3 KRI Badik 623 masih bertugas
4 KRI Keris 624 masih bertugas

Kapal patroli kelas Kakap FPB-57 Nav I

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Kakap 811 masih bertugas
2 KRI Kerapu 812 masih bertugas
3 KRI Tongkol 813 masih bertugas
4 KRI Barakuda 814 masih bertugas ex-KRI Bervang

Kapal patroli kelas Andau FPB-57 Nav II

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Andau 650 masih bertugas
2 KRI Singa 651 masih bertugas
3 KRI Tongkak 652 masih bertugas
4 KRI Ajak 653 masih bertugas

Kapal patroli kelas Pandrong FPB-57 Nav IV

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Pandrong 801 masih bertugas
2 KRI Sura 802 masih bertugas

Kapal patroli kelas Todak FPB-57 Nav V

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Todak 803 masih bertugas
2 KRI Hiu 804 masih bertugas
3 KRI Layang 805 masih bertugas
4 KRI Lemadang 806 masih bertugas Diluncurkan pada 19 April 2002

Kapal cepat kelas Boa

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Boa 807 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Mentigi 2003
2 KRI Welang 808 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Mentigi 2003
3 KRI Suluh Pari 809 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Mentigi 2004
4 KRI Katon 810 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Mentigi 2004
5 KRI Sanca 815 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Manokwari
6 KRI Warakas 816 masih bertugas
7 KRI Panana 817 masih bertugas
8 KRI Kalakay 818 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Manokwari Papua Barat 2004, memiliki semboyan "lincah cepat mematikan" beroperasi di perairan utara papua jenis patroli cepat Fiber 36 Meter, dengan Komandan 1,Kapten Laut (P) Tunggul, 2, Kapten Laut (P)Binsar Sitorus, 3, Kapten Laut (P)Irwan Shobirin, 4. Kapten Laut (P) Raden Moh Candra Wirabraja, 5.Kapten Laut (P) Sunarya 2010. jumlah pes 23 Orang, dilengkapi meriam 20 mm dan 12,7 mm kecepatan max 30 knot
9 KRI Tedong Naga 819 masih bertugas

Kapal patroli cepat kelas Kobra

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Kobra 867 masih bertugas
2 KRI Anakonda 868 masih bertugas
3 KRI Patola 869 masih bertugas
4 KRI Taliwangsa 870 kandas di selat makassar
5 KRI Kalagian
masih bertugas

Kapal patroli kelas PC-37 Kelas Viper

# Nama kapal Lambung Status Buatan Tahun Bertugas sejak
1 KRI Viper 820 masih bertugas Fasharkan TNI AL Jakarta
19 Oktober 2006.
2 KRI Piton 821 masih bertugas Fasharkan TNI AL Mentigi 2005 19 Oktober 2006.
3 KRI Weling 822 masih bertugas Fasharkan TNI AL Mentigi 2005 19 Oktober 2006.
4 KRI Matacora 823 masih bertugas Fasharkan TNI AL Mentigi 2006 14 Maret 2008.
5 KRI Tedung Selar 824 masih bertugas Fasharkan TNI AL Jakarta
14 Maret 2008.
6 KRI Boiga 825 masih bertugas Fasharkan TNI AL Manokwari
1 Agustus 2007.

Kapal patroli kelas PC40

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Krait 827 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Mentigi 2008, dalam proses sea trial.
2 KRI Tarihu 829 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Jakarta, masuk dinas sekitar tahun 2009.
3 KRI Alkura 830 masih bertugas Buatan Fasharkan TNI AL Mentigi, masuk dinas sekitar tahun 2009.
4 KRI Birang 831 masih bertugas
5 KRI Mulga 832 masih bertugas

Kapal patroli kelas Sibarau

# Nama kapal Lambung Status Dibeli dari Tanggal Nama sebelumnya
1 KRI Sibarau 847 masih bertugas Australia 16 November 1973 HMAS Bandolier (P 95)
2 KRI Siliman 848 masih bertugas Australia 21 Mei 1974 HMAS Archer (P 86)
3 KRI Sigalu 857 masih bertugas Australia 22 April 1983 HMAS Barricade (P 98)
4 KRI Silea 858 masih bertugas Australia 6 Mei 1983 HMAS Acute (P 81)
5 KRI Siribua 859 masih bertugas Australia 12 September 1983 HMAS Bombard (P 99)
6 KRI Waigeo 861 masih bertugas



7 KRI Siada 862 masih bertugas Australia 22 Februari 1985 HMAS Barbette (P 97)
8 KRI Sikuda 863 masih bertugas Australia 21 Februari 1985 HMAS Attack (P 90)
9 KRI Sigurot 864 masih bertugas Australia 18 Oktober 1985 HMAS Assail (P 89)

Kapal patroli

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Cucut 866 masih bertugas ex-RSS Jupiter

Kapal penyapu ranjau

T-43 (Project 244) class (MSO)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Pulau Rani 701 masih bertugas
2 KRI Pulau Ratewo 702 tenggelam Tenggelam pada 19 Mei 2000, di perairan Gresik.

Pulau Rengat (Tripartite) class (MHSC)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Pulau Rengat 711 masih bertugas
2 KRI Pulau Rupat 712 masih bertugas

Penyapu ranjau kelas Kondor

Merupakan bagian dari pembelian 39 kapal ex-Jerman Timur oleh B.J. Habibie pada tahun 1990-an pada masa pemerintahan Presiden Suharto. Keunikan dari nama-nama kapal pada kelas ini terletak pada seluruh nama kapal yang menggunakan singkatan PR (Penyapu Ranjau), kecuali KRI Kelabang yang sebelumnya bernama KRI Pulau Rondo dan KRI Kala Hitam sebelumnya bernama KRI Pulau Raibu.
# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Pulau Rote 721 masih bertugas ex-Jerman Timur Wolgast (811). Juga digunakan untuk survey hidro.
2 KRI Pulau Raas 722 masih bertugas ex-Jerman Timur Hettstedt (353)
3 KRI Pulau Romang 723 masih bertugas ex-Jerman Timur Pritzwalk (325). Juga digunakan untuk Survei Hidro Oseanografi.
4 KRI Pulau Rimau 724 masih bertugas ex-Jerman Timur Bitterfeld (332)
5 KRI Kelabang 826 masih bertugas ex-Jerman Timur Zerbst (335) sebelumnya juga bernama KRI Pulau Rondo
6 KRI Pulau Rusa 726 masih bertugas ex-Jerman Timur Oranienburg (341)
7 KRI Pulau Rangsang 727 masih bertugas ex-Jerman Timur Jüterbog (342)
8 KRI Kala Hitam 828 masih bertugas ex-Jerman Timur Sömmerda (311)
9 KRI Pulau Rempang 729 masih bertugas ex-Jerman Timur Grimma (336). Juga digunakan untuk Survei Hidro Oseanografi.

Kekuatan amfibi

Kapal angkut tank kelas Teluk Langsa

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Teluk Langsa 501 masih bertugas ex-USS Solano County (LST-1128)
2 KRI Teluk Bayur 502 pensiun ex-USS LST-616 (Gambar)
3 KRI Teluk Amboina 503 masih bertugas
4 KRI Teluk Kau 504 masih bertugas ex-USS LST-652
5 KRI Teluk Tomini 508 masih bertugas ex-USS Bledsoe County (LST-356)
6 KRI Teluk Ratai 509 masih bertugas ex-USS LST-678, ex-USS Presque Isle (APB-44)
7 KRI Teluk Saleh 510 masih bertugas ex-USS Clarke County (LST-601)
8 KRI Teluk Bone 511 masih bertugas ex-USS Iredell County (LST-839)

Tacoma type (LSTH)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Teluk Semangka 512 masih bertugas
2 KRI Teluk Penyu 513 masih bertugas
3 KRI Teluk Mandar 514 masih bertugas
4 KRI Teluk Sampit 515 masih bertugas
5 KRI Teluk Banten 516 masih bertugas
6 KRI Teluk Ende 517 masih bertugas

Kapal angkut tank kelas Frosch

Kelas Frosch I, Tipe 108 (LSM)

Merupakan bagian dari pembelian 39 kapal ex-Jerman Timur oleh B.J. Habibie pada tahun 1990-an pada masa pemerintahan Presiden Suharto.
# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Teluk Gilimanuk 531 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Hoyerswerda (611)
2 KRI Teluk Celukan Bawang 532 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Hagenow (632)
3 KRI Teluk Cendrawasih 533 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Frankfurt/Oder (613)
4 KRI Teluk Berau 534 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Eberswalde-Finow (634)
5 KRI Teluk Peleng 535 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Lübben (631)
6 KRI Teluk Sibolga 536 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Schwerin (612)
7 KRI Teluk Manado 537 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Neubrandenburg (633)
8 KRI Teluk Hading 538 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Cottbus (614)
9 KRI Teluk Parigi 539 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Anklam (635)
10 KRI Teluk Lampung 540 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Schwedt (636)
11 KRI Teluk Jakarta 541 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Eisenhüttenstadt (615)
12 KRI Teluk Sangkulirang 542 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Grimmen (616)

Kelas Frosch II, Tipe 109 (AKL-ARL)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
13 KRI Teluk Cirebon 543 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Nordperd (E171)
14 KRI Teluk Sabang 542 masih bertugas Bekas kapal Jerman Timur Südperd (E172)

Kapal multi-tugas (LPD/APCR)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI DR Soeharso 990 masih bertugas ex-KRI Tanjung Dalpele (972). Kapal bantu rumah sakit
2 KRI Makassar 590 masih bertugas
3 KRI Surabaya 591 masih bertugas

4 KRI Banjarmasin 592 masih bertugas

5 KRI Banda Aceh 593 masih bertugas

Kapal pendukung

Kapal komando (AGFH)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Multatuli 561 sudah pensiun Sebelumnya kapal survei yang kemudian menjadi kapal komando.

Kapal tanker pantai kelas Khobi (AOTL)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Balikpapan 901 masih bertugas
2 KRI Sambu 902 masih bertugas

Tanker kelas Rover (AORLH)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Arun 903 masih bertugas ex-RFA Green Rover (A268)

Tanker kecil

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Sungai Gerong 906 masih bertugas

Replenishment tanker (AOTL)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Sorong 911 masih bertugas

Kapal tunda

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Rakata 922 masih bertugas ex-USS Menominee (ATF-73)
2 KRI Soputan 923 masih bertugas Ocean Cruiser class

Kapal survey kelas Hecla (AGSH)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Dewa Kembar 932 masih bertugas ex-HMS Hydra (A144), sebelumnya kapal survei milik Angkatan Laut Inggris

Kapal pendukung (AKL)

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Nusa Telu 952 masih bertugas
2 KRI Teluk Mentawai 959 masih bertugas ex-Telaud/Tisza class
3 KRI Karimata 960 masih bertugas ex-Telaud/Tisza class
4 KRI Wagio 961 masih bertugas ex-Telaud/Tisza class

Kapal angkut pasukan (AP) eks-kapal penumpang

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Tanjung Kambani 971 masih bertugas ex-Dong Yang No. 6
2 KRI Tanjung Oisina 972 masih bertugas ex-MV Princess Irene
3 KRI Tanjung Nusanive 973 masih bertugas ex-KM Kambuna
4 KRI Tanjung Fatagar 974 masih bertugas ex-KM Rinjani

Kapal angkut pasukan (AP) eks-kapal feri cepat

# Nama kapal Lambung Status Keterangan
1 KRI Karang Pilang 981 masih bertugas ex-KFC Ambulu dari PT.ASDP Indonesia Ferri (Persero), 15 September 2005
2 KRI Karang Tekok 982 masih bertugas ex-KFC Mahakam; 7 April 2006
3 KRI Karang Banteng 983 masih bertugas ex-KFC Serayu; 7 April 2006
4 KRI Karang Galang 984 ditenggelamkan dalam latihan ex-KFC Cisadane; 7 April 2006. Sejak 27 Mei 2008 sudah berakhir masa tugasnya dan dijadikan sebagai sasaran pada latihan gabungan TNI.
5 KRI Karang Unarang 985 masih bertugas ex-KFC Barito; 7 April 2006


Selengkapnya...

Sejarah TNI Angkatan Laut

0 comments

Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dimulai dari dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945. BKR kemudian berkembang menjadi beberapa divisi, dimana BKR Laut, salah satu divisi awalnya, meliputi wilayah bahari / laut.

Badan Keamanan Rakyat Laut

Dibentuknya Badan Keamanan Rakyat Laut (BKR Laut) pada tanggal 10 September 1945 oleh administrasi kabinet awal Soekarno menjadi tonggak penting bagi kehadiran Angkatan Laut di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Terbentuknya BKR Laut ini dipelopori tokoh-tokoh bahariawan veteran yang pernah bertugas di jajaran Koninklijke Marine selama masa penjajahan Belanda dan veteran Kaigun selama masa pendudukan Jepang. Faktor lain yang mendorong terbentuknya badan ini adalah adanya potensi yang memungkinkan untuk menjalankan fungsi Angkatan Laut seperti kapal-kapal dan pangkalan, meskipun pada saat itu Angkatan Bersenjata Indonesia belum terbentuk.

Tentara Keamanan Rakyat Laut

Terbentuknya organisasi militer Indonesia yang dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) turut memacu keberadaan TKR Laut yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya. Sejumlah Pangkalan Angkatan Laut terbentuk, kapal - kapal peninggalan Jawatan Pelayaran Jepang diperdayakan, dan personel pengawaknya pun direkrut untuk memenuhi tuntutan tugas sebagai penjaga laut Republik yang baru terbentuk itu. Kekuatan yang sederhana tidak menyurutkan ALRI untuk menggelar Operasi Lintas Laut dalam rangka menyebarluaskan berita proklamasi dan menyusun kekuatan bersenjata di berbagai tempat di Indonesia. Disamping itu mereka juga melakukan pelayaran penerobosan blokade laut Belanda dalam rangka mendapatkan bantuan dari luar negeri.
Kepahlawanan prajurit samudera tercermin dalam berbagai pertempuran laut dengan Angkatan Laut Belanda di berbagai tempat seperti Pertempuran Selat Bali, Pertempuran Laut Cirebon, dan Pertempuran Laut Sibolga. Operasi lintas laut juga mampu menyusun pasukan bersenjata di Kalimantan Selatan, Bali, dan Sulawesi. Keterbatasan dalam kekuatan dan kemampuan menyebabkan ALRI harus mengalihkan perjuangan di pedalaman, setelah sebagian besar kapal ditenggelamkan dan hampir semua pangkalan digempur oleh kekuatan militer Belanda dan Sekutu. Sebutan ALRI Gunung kemudian melekat pada diri mereka. Namun demikian tekad untuk kembali berperan di mandala laut tidak pernah surut. Dalam masa sulit selama Pereang Kemerdekaan ALRI berhasil membentuk Corps Armada (CA), Corps Marinier (CM), dan lembaga pendidikan di berbagai tempat. Pembentukan unsur - unsur tersebut menandai kehadiran aspek bagi pembentukan Angkatan Laut yang modern.

Pascapengakuan kedaulatan

Berakhirnya Perang Kemerdekaan menandai pembangunan ALRI sebagai Angkatan Laut modern. Sesuai dengan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), sejak tahun 1949, ALRI menerima berbagai peralatan perang berupa kapal - kapal perang beserta berbagai fasilitas pendukungnya berupa Pangkalan Angkatan Laut. Langkah ini bersamaan dengan konsilidasi di tubuh ALRI, pembenahan organisasi, dan perekrutan personel melalui lembaga pendidikan sebelum mengawaki peralatan matra laut. Selama 1949-1959 ALRI berhasil menyempurnakan kekuatan dan meningkatkan kemampuannya. Di bidang Organisasi ALRI membentuk Armada, Korps Marinir yang saat ini disebut sebagai Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL), Penerbangan Angkatan Laut dan sejumlah Komando Daerah Maritim sebagai komando pertahanan kewilayahan aspek laut. Peralatan tempur ALRI pun bertambah baik yang berasal dari penyerahan Angkatan Laut Belanda maupun pembeliandari berbagai negara. Penyiapan prajurit yang profesional pun mendapatkan perhatian yang besar dengan pendirian lembaga pendidikan untuk mendidik calon - calon prajurit strata tamtama, bintara, dan perwira, serta pengiriman prajurit ALRI untuk mengikuti pendidikan luar negeri.
Dengan peningkatan kekuatan dan kemampuan tersebut, ALRI melai menyempurnakan strategi, taktik, maupun teknik operasi laut yang langsung diaplikasikan dalam berbagai operasi militer dalam rangka menghadapi gerakan separatis yang bermunculan pada tahun - tahun 1950 hingga 1959. Dalam operasi penugasan PRRI di Sumatera, Permesta di Sulawesi, DI/TII di Jawa Barat, dan RMS di Maluku, ALRI memperoleh pelajaran dalam penerapan konsep operasi laut, operasi amfibi, dan operasi gabungan dengan angkatan lain.

Penambahan kekuatan

Pada saat kondisi negara mulai membaik dari ancaman desintegrasi, pada tahun 1959 ALRI mencanangkan program yang dikenal sebagai Menuju Angkatan Laut yang Jaya. Sampai tahun 1965 ALRI mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Hal ini dilatarbelakangi oleh politik konfrontasi dalam rangka merebut Irian Barat yang dirasa tidak dapat diselesaikan secara diplomatis. Berbagai peralatan tempur Angkatan Laut dari negara Eropa Timur memperkuat ALRI dan menjadi kekuatan dominan pada saat itu. Beberapa mesin perang yang terkenal di jajaran ALRI antara lain kapal penjelajah (cruiser) RI Irian, kapal perusak (destroyer) klas 'Skory', fregat klas 'Riga', Kapal selam klas 'Whisky', kapal tempur cepat berpeluru kendali klas 'Komar', pesawat pembom jarak jauh Ilyushin IL-28, dan Tank Amfibi PT-76. Dengan kekuatan tersebut pada era tahun 1960-an ALRI disebut - sebut sebagai kekuatan Angkatan Laut terbesar di Asia.

Trikora

Ada beberapa operasi laut selama operasi pembebasan Irian Barat yang dikenal dengan sebutan Operasi Trikora itu. Pada awal Trikora digelar, kapal -kapal cepat torpedo ALRI harus berhadapan dengan kapal- kapal perusak, fregat, dan pesawat Angkatan Laut Belanda di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962. Komodor Yos Soedarso beserta RI Macan Tutul tenggelam pada pertempuran laut tersebut. Peristiwa yang kemudian dikenang sebagai Hari Dharma Samudera itu memacu semangat untuk merebut Irian Barat secara militer. Pada saat itu ALRI mampu mengorganisasikan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia. Tidak kurang dari 100 kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut. Gelar kekuatan tersebut memaksa Belanda kembali ke meja perundingan dan dicapai kesepakatan untuk menyerahkan Irian Barat ke pangkuan RI.

Dwikora

Politik konfrontasi RI dalam melawan Neo Kolonialisme dan Imperialisme (Nekolim) dilanjutkan pada Operasi Dwikora untuk menentang pembentukan negara Malaysia. Meskipun unsur - unsur Angkatan Bersenjata RI telah disiapkan dalam operasi tersebut, namun operasi hanya sebatas pada operasi infiltrasi. Prajutir - prajurit ALRI dari kesatuan KKO-AL terlibat dalam tahap ini. Sementara unsur - unsur laut menggelar pameran bendera dalam rangka mengimbangi provokasi oleh kekuatan laut negara - negara sekutu. Operasi Dwikora tidak dilanjutkan seiring dengan suksesi pemerintahan di Indonesia pasca Pemberontakan G 30 S/PKI.
Sejak tahun 1966 ALRI yang kemudian disebut dengan TNI AL mengalami babak baru dalam perjalanan sejarahnya seiring dengan upaya integrasi ABRI. Dengan adanya integrasi ABRI secara organisatoris dan operasional telah mampu menyamakan langkah pada pelaksanaan tugas di bidang pertahanan dan keamanan sehingga secara doktrinal, arah pengembangan kekuatan dan kemampuan setiap angkatan menjadi terpusat. Kegiatan operasi yang menonjol pada kurun waktu 1970-an adalah Operasi Seroja dalam rangka integrasi Timor Timur kepada RI. TNI AL berperan aktif dalam operasi pendaratan pasukan, operasi darat gabungan, dan pergeseran pasukan melalui laut.

Modernisasi

Mulai dasawarsa 1980-an TNI AL melakukan langkah modernisasi peralatan tempurnya, kapal - kapal perang buatan Eropa Timur yang telah menjadi inti kekuatan TNI AL era 1960 dan 1970-an dinilai sudah tidak memenuhi tuntutan tugas TNI AL. Memburuknya hubungan RI - Uni Sovyet pasca pemerintahan Presiden Soekarno membuat terhentinya kerja sama militer kedua negara. Oleh karena itu TNI AL beralih mengadopsi teknologi Barat untuk memodernisasi kekuatan dan kemampuannya dengan membeli kapal - kapal perang dan peralatan tempur utama lainnya dari berbagai negara, diantaranya Korvet berpeluru kendali kelas 'Fatahillah'dari Belanda, Fregat berpeluru kendali klas 'Van Speijk' eks- AL Belanda, Kapal selam klas 209/1300 buatan Jerman Barat, Kapal tempur cepat berpeluru kendali klas'Patrol Ship Killer' buatan Korea Selatan, dan Pesawat Patroli Maritim 'Nomad-Searchmaster'eks-Angkatan Bersenjata Australia.

Kegiatan non-tempur

Pada saat yang sama TNI AL mengembangkan militer non tempur yang berupa operasi bakti kemanusiaan Surya Bhaskara Jaya di berbagai daerah terpencil di Indonesia yang hanya bisa dijangkau lewat laut. Operasi ini berintikan kegiatan pelayanan kesehatan, pembangunan dan rehabilitasi sarana publik, dan berbagai penyuluhan dibidang kesehatan, hukum, dan bela negara. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun hingga sekarang. Sejumlah negara juga pernah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut antara lain Singapura, Australia dan Negara Amerika Serikat. TNI AL juga berupaya menggalakan pembangunan sektor kelautan jauh sebelum Departemen Kelautan terbentuk, khususnya yang berhubungan dengan aspek pertahanan dan keamanan di laut. Kegiatan - kegiatan nyata yang dilakukan TNI AL adalah mendirikan badan - badan pengkajian pembangunan kelautan bersama - sama dengan pemerintah dan swasta di beberapa daerah, program desa pesisir percontohan yangterangkum dalam Pembinaan Desa Pesisir (Bindesir), dan program Pembinaan Potensi Nasional menjadi KekuatanMaritim (Binpotnaskuatmar). Dalam rangka menggelorakan jiwa bahari bangsa, TNI AL menggelar event kelautan skala internasional yaitu Arung Samudera 1995 yang berintikan Lomba Kapal Layar Tiang Tinggi dan perahu layar. TNI AL juga menjadi pendukung utama dicanangkan Tahun Bahari 1996 dan Deklarasi Bunaken 1998 yang merupakan manifestasi pembangunan kelautan di Indonesia.

1990-an

Selama dasawarsa 1990-an TNI AL mendapatkan tambahan kekuatan berupa kapal - kapal perang jenis korvet klas 'Parchim', kapal pendarat tank (LST) klas 'Frosch', dan Penyapu Ranjau klas Kondor.Penambahan kekuatan ini dinilai masih jauh dari kebutuhan dan tuntutan tugas, lebih - lebih pada masa krisis multidimensional ini yang menuntut peningkatan operasi namun perolehan dukungannya sangat terbatas. Reformasi internal di tubuh TNI membawa pengaruh besar pada tuntutan penajaman tugas TNI AL dalam bidang pertahanan dan keamanan di laut seperti reorganisasi dan validasi Armada yang tersusun dalam flotila - flotila kapal perang sesuai dengan kesamaan fungsinya dan pemekaran organisasi Korps Marinir dengan pembentukan satuan setingkat divisi Pasukan Marinir-I di Surabaya dan setingkat Brigade berdiri sendiri di Jakarta. Pembenahan - pembenahan tersebut merupakan bagian dari tekad TNI AL menuju Hari Esok yang Lebih Baik.

sumber : Wikipedia bahasa Indonesia


Selengkapnya...