Pages

 

Senin, 13 Juni 2011

Alasan Soeharto Menukar Pesawat CN-235 dengan Beras Thailand

0 comments

Tindakan diluar logika sering dilakukan Presiden Soeharto selama Ia menjadi presiden, tidak heran terkadang membuat kagum kita, tidak heran juga banyak kontroversi yang mengalir akibat tindakan beliau, banyak yang bertanya dan protes tapi beliau begitu kokoh sebagai penguasa di waktu itu. Salah satu kontroversi yang dilakukan beliau yaitu menukar Pesawat buatan dalam negeri CN-235 dengan 110ribu ton beras dari Thailand. Berikut cerita Soeharto dibalik barter pesawat tersebut.

Lansiran vivanews - April 1996 silam, Presiden RI yang kedua, Soeharto,  memutuskan menukar dua pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara, CN-235, dengan beras ketan Thailand. Kebijakan itu kemudian menjadi olok-olok. Banyak orang yang merasa terhina.
Bagaimana mungkin produk unggulan nasional itu cuma ditukar dengan 110.000 ton beras ketan? Bagaimana mungkin ratusan insinyur kita yang cerdas gemilang itu, disetarakan dengan para petani di Thailand. Harga dua pesawat itu mencapai US$34 juta atau Rp78,2 miliar.
Banyak pertanyaan seputar kasus ini, juga banyak liputan media massa. Tapi sangat sedikit yang mengungkap apa dibalik peristiwa itu. Dalam buku "Pak Harto, The Untold Stories" cerita dibalik barter itu terungkap. Buku itu diluncurkan Rabu, 8 Juni 2011 pekan lalu, bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Soeharto.
Adalah Tengku Zulkarnain, salah satu ulama asal Medan yang dekat dengan Soeharto, yang menuturkan kisah ini dalam buku itu.

Menurut Tengku Zulkarnain, dalam suatu pertemuan setelah Soeharto lengser, ia menanyakan beberapa hal yang saat Soeharto masih berkuasa sering diributkan orang. "Pak, dulu beberapa orang merasa terhina ketika Bapak menjual pesawat buatan Indonesia CN-235 secara barter dengan beras ketan dari negara lain."

Saat itu, cerita Tengku, Pak Harto menjawab pertanyaannya dengan tenang. "Sebenarnya saya meniru Indira Gandhi yang ketika menjual bus Damri kepada kita, ia tidak mau dibayar dengan dolar. Indira minta bus-bus itu dibarter saja dengan beras yang di negara kita saat itu surplus.
Mengapa? Indira mengatakan, 'Jika dibayar dengan dolar, sesudahnya mereka mesti mengimpor beras dan dikenai pajak sepuluh persen. Kalau barter kan tidak kena pajak, sehingga seluruh hasil penjualan bisa seratus persen untuk rakyat'. Nah, kalau saya membarter pesawat itu dengan beras ketan, wong kita memang sedang perlu kok," kata Pak Harto.

Tengku lalu mengingatkan kepada Pak Harto soal pameo orang tentang CN-235, yang dinamai Tetuko. Sebab gara-gara pesawat itu ditukar  dengan beras ketan, namanya kemudian diplesetkan menjadi sing tuku ora teko-teko, sing teko ora tuku-tuku (yang membeli tidak kunjung datang, yang datang tidak kunjung beli). Saat itu Pak Harto hanya tertawa.

Kini kehebatan IPTN sebagai penghasil pesawat tidak terdengar lagi. Perusahaan yang belakangan diganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia itu 'porak-poranda' setelah krisis ekonomi melanda Indonesia.

Selengkapnya...

Senin, 06 Juni 2011

Film Karya Sutradara Indonesia Juara di Asian Short Film Awards

0 comments
SINGAPURA - Media Indonesia (6/6/2011) : Payung Merah (Red Umbrella), film garapan sutradara asal Indonesia, Edward Gunawan berhasil meraih penghargaan film terbaik di Short Film Awards yang di selenggarakan oleh ScreenSingapore Asian Film Awards, di Singapura, Minggu. "Payung Merah" berhasil menyisihkan 10 nominasi lainnya dari 15 negara.

Drama-thriller supranatural yang bercerita tentang seorang sopir taksi (diperankan oleh aktor muda populer Rio Dewanto) yang belajar untuk menghargai orang yang dicintainya setelah mengantarkan penumpang yang cantik namun misterius (Atiqah Hasiholan) ini menjadi kolaborasi pertama antara Edward Gunawan, 28, dan Andri Cung, 33. Film produksi Add Word Productions yang berdurasi sembilan menit ini juga menampilkan Zubir Mustaqim, seorang tokoh senior di dunia teater.

"Ini sangat mengejutkan mengingat bahwa kami menyerahkan aplikasi pada menit-menit terakhir," ujar Edward seperti dikutip media-media lokal, Senin (6/6).

Panitia penyelenggara mengatakan, selama dua bulan dibuka pendaftaran, mereka telah menerima sekitar 90 judul film dari 90 peserta yang berasal dari 15 negara di Asia-Pasifik. Festival film yang berhadiah sebesar 20.000 dolar Singapura ini diseleksi oleh panel juri yang dipimpin oleh sutradara Hollywood ternama Oliver Stone dan sutradara veteran asal Singapura Eric Khoo.

ScreenSingapore sebagai pihak penyelenggara mengatakan, acara ini ini bukan sebuah festival film" tapi lebih kepada acara film yang akan mencakup penghargaan, teknologi, pasar konten, konferensi dan lokakarya.
Selengkapnya...

Kamis, 26 Mei 2011

Pakar Nuklir Indonesia Dipilih Menjadi Anggota Pencari Fakta Fukushima

0 comments

Indonesia Bisa - (Lansiran Antara News /24 Mei 2011) Terpilihnya pakar Indonesia untuk bergabung dengan Misi Fukushima merupakan pengakuan dari IAEA dan dunia internasional terhadap penguasaan teknologi nuklir Indonesia dan terhadap kemampuan Indonesia dalam masalah tanggap darurat nuklir.

Hal ini juga memperkuat pandangan dunia terhadap Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang cukup maju dalam penguasaan teknologi nuklir dan terdepan dalam bidang tersebut di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik.  
 
Seorang pakar Indonesia di bidang tanggap darurat nuklir dan perlindungan radiasi, Dedik Eko Sumargo, terpilih oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk bergabung dengan Misi Internasional Pencari Fakta (International Fact-Finding Mission) ke Fukushima, Jepang.

Misi hanya terdiri dari 20 orang pakar nuklir terpilih dunia di bidang tanggap darurat nuklir, demikian Sekretaris Tiga KBRI /Perwakilan Tetap RI Wina, Austria, Luna Amanda Sidqi dalam keterangan persnya yang diterima Antara London, Selasa.

Dikatakannya misi tersebut dilepas Dirjen IAEA di Wina dan akan melaksanakan tugasnya mulai tanggal 24 Mei hingga 2 Juni mendatang.

Tugas utama misi tersebut adalah untuk melakukan penilaian awal mengenai aspek keselamatan nuklir (nuclear safety) di PLTN Fukushima Dai-ichi yang mengalami masalah pasca gempa dan tsunami pada tanggal 11 Maret lalu.

Hasil penilaian tersebut akan dilaporkan kepada Dewan Gubernur IAEA pada tanggal 6 Juni mendatang pada Pertemuan Tingkat Menteri mengenai Keselamatan Nuklir (IAEA Ministerial Meeting on Nuclear Safety) yang akan berlangsung di Wina, 20-24 Juni 2011.

Dedik Eko Sumargo adalah salah satu dari empat orang pakar Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia kepada Dirjen IAEA dan Pemerintah Jepang untuk membantu penanganan situasi di Jepang.

Penawaran tersebut disampaikan secara resmi oleh Dubes/Watap RI Wina, Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja, kepada Dirjen IAEA dan Pemerintah Jepang (melalui Dubes Jepang di Wina) pada akhir April 2011 lalu.

Tawaran yang sama juga disampaikan Kepala BAPETEN, Asnatio Lasman, kepada pimpinan Badan Pengawas Keselamatan Nuklir Jepang (NISA) dalam pertemuan disela-sela Pertemuan Negara Pihak pada Konvensi Keselamatn Nuklir di Wina awal bulan Mei 2011 lalu.

Dedik Eko Sumargo memiliki pengalaman selama 21 tahun di bidang radiation protection dan 12 tahun di bidang emergency response. Selama ini aktif dalam berbagai aktivitas ilmiah terkait kedua isu tersebut yang diselenggarakan IAEA dan diakui kemampuannya oleh IAEA selama ini.

Selengkapnya...